|
Pemkot Suabaya terus mengupayakan perkembangan Surabaya Barat. Meski banyak yang menilai rencana pengembangan Surabaya barat butuh waktu lama dan biaya besar, tapi pemkot tetap ingin memajukan kawasan tersebut . Setelah selesai membangun Rumah Sakit Bakti Dharma Husada (RS-BDH) dan Surabaya Sport Centre (SSC) pada 2011 ini, pemkot akan mewujudkan jalan lingkar barat luar mulai dari Lakarsantri, Sambikerep, Perumahan Citraland ( waterpark), Dusun Kendung, Kandangan- Sememi, Benowo-SSC-Romokalisari. “Yang sedang kami bahas saat ini rencana perwujudan jalan lingkar Surabaya barat luar tersebut. Kami sudah menganggarkan pembangunannya sekitar Rp 8 miliar,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Hendro Gunawan. Dana tersebut untuk pembebasan lahan dan pembangunan fisik jalan. Rencana ini segera disampaikan ke Walikota Surabaya. Berdasarkan, analisa Bappeko Kota Surabaya pembangunan jalan lingkar Surabaya barat luar sudah banyak yang dibuka pengembang di antaranya yang dibangun Citraland dan Bukit Mas. Kedua pengembang ini sudah menyatakan sanggup membangun akses jalan tersebut. Selanjutnya pemkot akan meminta jalan itu sebagai fasum yang wajib diserahkan pengembang ke pemkot. Untuk jalan lingkar Surabaya Barat luar atau yang disebut dengan west outer ring road (WORR), sebetulnya fisik jalannya sudah ada. Cuma perlu pelebaran dan sebagian lainnya perlu pembebasan lahan. Pembebasan lahan dibutuh paling lama setahun. “Selanjutnya, kami lanjutkan pada pembangunan fisik pada 2012,” kata Hendro. Jalan di sekitar perumahan yang membangun pengembang, sedangkan di luar itu pemkot yang akan membebaskan lahannya dan yang membangun fisiknya. Pembangunan jalan lingkar dalam dan luar Surabaya barat ini dimulai setelah jalan lingkar dalam Surabaya timur atau Middle East Ring Road (MERR) II C selesai akhir tahun ini. “Jadi pelaksanaannya bergiliran,” ujarnya. Dwi Djaja Wardana, Kepala Bidang Fisik Prasarana Bappeko Surabaya menambahkan, lingkar Surabaya Barat nantinya akan menghubungkan kawasan Surabaya Barat ke Utara. Mulai dari Wiyung sisi selatan ke arah utara sampai Kalianak hingga Gresik. Dan lingkar Surabaya Barat luar mulai dari Waru Gunung terus ke Wiyung sampai ke interchange tol Surabaya – Gresik. Lingkar Surabaya Barat luar, kata Dwi Djaja, sepanjang 12 km memang akan melewati lahan pengembang. Dan ini sudah diserahkan ke pemkot Surabaya. Hanya saja, untuk lahan lingkar Surabaya Barat dalam belum sepenuhnya diserahkan pengembang. Sedangkan untuk lingkar Surabaya Barat tengah, mulai Wiyung jalan tembus Unesa ke arah utara di mana sampai sekarang masih terkendala pembebasan lahan di wilayah utara. Ke-3 infrastruktur itu direncanakan akan selesai tahun 2015 Selain sebagai akses menuju SSC, WORR bakal menjadi akses dari luar kota, yakni dari Krian dan Gresik menuju sisi barat Surabaya, tanpa melalui jalan koridor utara-selatan Kota Surabaya. Di samping itu, jalur luar lingkar Surabaya barat juga disiapkan untuk ke arah Pelabuhan Teluk Lamong, yang pembangunannya telah direncanakan. Untuk mewujudkan pembangunan itu, tahun ini tim Bappeko mulai mengkaji lokasi yang akan dilalui proyek tersebut. Beberapa ruas jalan yang direncanakan sebagai jalur lingkar luar barat juga telah disiapkan, yakni jalan di kawasan Perumahan Citraland dan Jl. Made di Kecamatan Sambikerep. Panjang jalan lingkar luar barat rencananya dibangun sepanjang 18,69 kilometer. Selain infrastruktur jalan, pemkot akan menyiapkan subterminal di Benowo untuk mendukung keberadaan SSC. Fasilitas baru itu tak hanya dijadikan tempat mangkal angkutan kota (angkot). Pemkot juga menyiapkan selter atau tempat pemberhentian kereta api. “Di sana kan sudah ada jalur kereta komuter dari Pasar Turi jurusan Surabaya-Lamongan (Sulam), sehingga keberadaan subterminal memudahkan orang masuk ke wilayah Surabaya barat atau yang akan ke SSC,” terangnya. Terkait dengan ini, Bappeko sudah bekerja sama dengan Pemkab Gresik. Harapannya, Gresik juga membangun wilayahnya yang berbatasan dengan Surabaya barat. Dengan demikian pembangun Surabaya barat dan wilayah Gresik yang dekat dengan Surabaya sama-sama bisa berkembang dengan baik. “Dengan adanya pengembangan akses jalan kawasan Surabaya barat diharapkan perekonomian warga yang ada di wilayah perbatasan Gresik-Surabaya juga turut meningkat,” ungkapnya. Surabaya tidak ingin yang maju nanti hanya warga Surabaya yang ada di perbatasan, tetapi warga Gresik yang ada di perbatasan juga turut merasakan dan menikmati pembangunan yang dilakukan Pemkot. Selain itu, guna menunjang perkembangan wilayah Surabaya barat agar lebih cepat maju seperti saudaranya di timur pemkot juga akan membangun hutan kota untuk ruang terbuka hijau (RTH) di Pakal seluas 23 hektare. Lahan tersebut terdiri dari tanah bekas tanah kas desa (BTKD) dan milik warga. Lahan BTKD seluas 13 ha dan tanah warga sekitar 10 ha. Kemudian, membangun mini bozem baru di 4 titik, yakni di kelurahan Pakal, Sumberrejo, Wiyung, Margomulyo dan Jambanagan. Bozem mini untuk menjadi peresap air hujan sehingga bisa mengurangi banjir di kawasan tersebut. Bahkan, Pemkot juga akan membangun dua rumah pompa baru, yang keduanya dipasang di Greges. Pompa air ini untuk emngurangi banjir di margomulyo yang hampir setiap tahun dilanda banjir. Selain itu, melakukan penangulangan Kali Lamong sepanjang 1,3 5 km dengan biaya Rp 20 miliar. Dana sebesar itu dikucurkan pusat yang diprgunakan khusus untuk menanggulangi banjir di sekitar Kali Lamong. Program lainnya, akan melanjutkan pengadaan pengelolaan lelang sampah yang sempat terhenti pada 2010 karena belum ada kesepakatan antara investor dengan pemkot. Pemkot meminta agar pengelolaan sampah dananya dari investor, sementara investornya minta dana dari APBD. “Ini juga akan kami tindaklanjuti,” terangnya. Sementara program yang penting dalam mengembangkan kawasan Surabaya barat adalah melebarkan jalan Kandangan-Benowo. Untuk program ini pemkot menilai ada dua alternatif pelaksanaannya. Pertama bisa menggunakan penanaman box culvert seperti di Banyu Urip dan yang kedua melebarkan jalan tersebut dengan cara membebaskan lahan warga. Pelebaran jalan ini nantinya juga akan disertai dengan perubahan saluran irigasi menjadi drainase. Saluran air yang semula untuk mengairi sawah, nantinya akan diubah menjadi saluran drainase untuk saluan penanggulangan banjir. Terkait dengan pembangunan jalan lingkar dalam dan luar Surabaya barat pakar tata kota ITS Ir Haryo Sulistiarso mengatakan, program pemkot ini sudah digagas sejak 1990-an. Cuma pelaksanaannya baru bisa direalisasikan di atas tahun 2000. Meski demikian, upaya pemkot tersebut sebagai bentuk kepeduliannya dalam mengantispasi kemacetan lalu lintas. Nantinya, warga dari Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan lainnya yang ingin menuju Mojokerto, Jombang, Sidoarjo atau Malang tidak harus melintas di tengah kota. Mereka bisa mengambil alternatif jalan lingkar tersebut. Sementara dari sisi ekonomi, dengan pembangunan insfratsruktur itu manik-manik atau susdut-sudut kota menjadi hidup. Sehingga perkonomian kota menyebar ke pinggiran. “Ini sudah menjadi tujuan Surabaya, harapannya agar ekonomi kota tidak terpusat di tengah kota tapi menyebar ke pinggiran,” ungkapnya. Proyek Sarana Penunjang Pengembangan di Surabaya Barat 1. Hutan kota atau ruang terbuka hijau (RTH) di Pakal seluas 23 ha. 2. RS BDH Dusun Kendung, Kelurahan Sememi, Kecamatan Pakal 3. Pembanguan mini bozem baru di 4 titik, yakni di kelurahan Pakal, Sumberrejo, Wiyung, Margomulyo dan Jambangan. 4. Membangun dua rumah pompa baru di Greges 5. Penangulangan Kali Lamong sepanjang 1,35 km dengan biaya Rp 20 miliar 6. Pengadaan pengelolaan lelang sampah yang sempat terhenti akan dilanjutkan. 7. Melebarkan jalan Kandangan-Benowo (ada dua alternatif program : membangun box culvert atau membebaskan lahan warga) 8. Konversi saluran irigari menjadi drainase 9. Surabaya Sport Centre (SS) 10. Subterminal di Benowo Sumber: Bapeko Surabaya
|