Selasa, 18 Juni 2013
Arsip Berita Cari
Spesies Baru, Pohon Pemakan Hewan
Senin, 26/12/2011 | 13:37 WIB
ist
Nepethes robcantleyi, jenis pohon pemakan hewan.

Pohon itu pertamakali ditemukan di Mindanao, Filipina pada 1997 oleh polisi.

LONDON - Sebuah pohon pemakan tikus akhirnya diresmikan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan, 7 tahun setelah pohon itu dipamerkan di ajang Chelsea Flower Show. Pohon karnivora terbesar di dunia –dengan diameter bunga mencapai 2,5 meter– itu sebenarnya sudah jadi pusat perhatian pengunjung sejak 5 tahun terakhir.

Pengembang pohon ini sendiri sukes mendapatkan empat medali emas dari Royal Horticultural Society, namun meski telah menjadi pohon paling banyak difoto sepanjang sejarah, baru saat ini saja pohon karnivora terbesar itu tersebut diakui sebagai spesies tanaman baru.

Nepethes robcantleyi, nama baru untuk pohon ini, diberikan setelah sampel daun dan fotonya diberikan pada Martin Cheek, pakar klasifikasi tumbuhan dari Royal Botanic Gardens, Inggris.

“Ini bukanlah cara yang biasa untuk menemukan spesies baru,” kata Cheek, dikutip dari Independent, Senin (26/12). “Penemuan ini sangat tidak lazim dan merupakan kejutan besar,” ujarnya.

Cheek menyebutkan, saat ia menerima sampel dan foto-foto pohon tersebut, tidak perlu waktu lama baginya mendapati spesies ini adalah spesies baru bagi ilmu pengetahuan. “Tumbuhan ini sangat besar, dramatis, dan spektakuler,” kata Cheek.

Untuk memangsa hewan, tanaman ini punya celah di bunganya sehingga bisa memancing serangga, reptil, sampai hewan mamalia masuk ke dalam kawah yang penuh asam klorida dan enzim yang mampu mengurai tubuh hewan itu untuk dijadikan nutrisi. Kandungan zat-zat yang ada di dalam bunga itu sendiri serupa dengan isi perut manusia.

Nepethes robcantleyi sendiri pertamakali ditemukan oleh Rob Cantley, mantan polisi asal Hong Kong yang beralih profesi ke industri tanaman. Pohon itu ia temukan pada tahun 1997 saat ia menjelajah hutan lindung di Mindanao, Filipina. Ia kemudian mengumpulkan beberapa bibit dan berhasil menumbuhkannya.

 “Di kebun kami banyak tikus dan mereka seringkali tertangkap oleh pohon tersebut dan kami terpaksa mengeluarkan tikus-tikus itu,” kata Cantley. “Tumbuhan bisa mencerna tikus-tikus itu, tetapi kami tidak bisa. Baunya sangat menjijikkan,” ujarnya.

Di alam bebas, kata Cantley, tumbuhan ini mungkin makan tanaman lain atau serangga. “Namun di penangkaran, mereka seringkali menangkap hewan lain seperti tikus dan kadal kecil,” dia menambahkan.viv

Share
 
Terdapat komentar untuk berita ini.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan kometar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Posting Komentar Anda :
Nama
Email
Komentar Anda  
Security Code
 
>>> Kembali
KOLOM
Lainnya
Heritage

Batik
Kerajinan batik ini di Surabaya meluas setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai...
Lainnya
Info Kurs
KURS JUAL BELI
USD 9,935.00 9,837.00
EUR 13,268.19 13,135.35
GBP 15,603.91 15,447.04
SGD 7,946.73 7,867.08
AUD 9,526.67 9,429.75
JPY 104.55 103.48
14 Jun 2013 15:19
Sumber : www.bi.go.id
Catatan Kecil
Sering Tampil di TV, Eko ‘Disemprit’
Masih kurang ya gaji dari dewan? Kemaruk amat!
Capres Non-Parpol Lebih Laku
Minimal kalau korupsi tak berjamaah…
Rusia Tuding AS Sabotase Sukhoi
Duh Mister Putin sukanya kok cari ‘kambing hitam’