Jumat, 24 Mei 2013
Arsip Berita Cari
Probolinggo Kota Bahari, Tetapi Miskin Ikan Olahan
Selasa, 24/01/2012 | 11:04 WIB

Meski termasuk kawasan bahari dengan ratusan nelayan, industri olahan ikan skala kecil di Kota Probolinggo tergolong sedikit. Di antara yang sedikit itu ada beberapa usaha kecil yang kreatif menyajikan ikan olahan aneka rasa. Berikut laporan koresponden Surabaya Post di Probolinggo, Ikhsan Mahmudi.

 

KECAMATAN Mayangan yang terletak di pantai utara mewakili wajah bahari Kota Probolinggo. Ratusan warganya menggantungkan hidupnya dari laut sebagai nelayan. Ribuan ton hasil tangkapan (ikan) setiap tahun didaratkan di Pelabuhan Pendaratan Pantai (PPP) Mayangan, juga di pelabuhan Tanjung Tembaga.

            Meski termasuk kawasan bahari, sedikit sekali warga (home insutry) yang melakukan pengolahan hasil laut. Memang ada sejumlah perusahan besar pengolahan ikan seperti PT Sulindo di kawasan Tanjung Tembaga dan PT Shouthern Marine di Jl. Brantas.

            Kebanyakan home industry yang mengolah ikan di Mayangan masih berkutat pada pengolahan ikan basah menjadi ikan kering (ikan asin). Hanya segelintir warga yang berkreasi mengolah ikan menjadi makanan ringan (snack).

            Di antara warga yang kreatif mengolah ikan menjadi makanan ringan adalah Sholihat, warga Kelurahan Mayangan. Sholihat memproduksi ikan krispi aneka rasa mulai, rasa sapi panggang, keju, hingga pedas-manis.

            Selain itu ada Saiful Bahri, warga Kelurahan Jati, yang sukses mengolah kepiting dan tulang ikan menjadi ”kriuk” (krispi). Meski kreatif keduanya terbentur pada berbagai kendala seperti permodalan hingga pemasaran.

            ”Saya hanya bisa memproduksi 5 kilogram ikan krispi setiap hari. Itu pun saat musim ikan,” ujar Sholihat, Selasa (24/1) pagi tadi.

            Ikan jenggelek menjadi bahan baku utama ikan aneka rasa yang diproduksi Sholihat. Perempuan asal Bandung, Jabar yang kemudian menetap di Probolinggo itu mengaku, hanya bisa memproduksi ikan krispi saat musim ikan tiba.

            ”Kalau soal pemasaran sebenarnya tidak ada masalah. Semua ikan krispi saya, langsung ludes begitu selesai dikemas,” ujarnya. Selain dipasarkan di sejumlah outlet penjualan makanan-minuman khas Probolinggo, ikan krispi aneka rasa itu juga sampai terlempar jauh ke Bali.

            Disinggung mengapa tidak memproduksi ikan krispi dengan skala lebih besar, Sholihat mengatakan, terbentur permodalan dan alat produksi. ”Saat musim hujan misalnya, untuk menunggu ikan kering lumayan lama,” ujarnya.

            Sebenarnya Sholihat mendapatkan bantuan alat pengering ikan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat. ”Tetapi alat pengering ikan itu kualitasnya jelek. Ikan yang dikeringkan bisa matang,” ujarnya.

            Perempuan berdarah Sunda itu bersyukur bantuan lain dari DKP berupa meja dan alat press plastik (untuk pengemasan) masih bisa difungsikan.

            Selain Sholihat, masih ada Saiful Bahri (50), perajin makanan olahan berbahan ikan di Jl. M.T. Haryono Gang VII/7B, Kota Probolinggo. Status usaha kecil mikro (UKM) tidak menyurutkan Saiful untuk memproduksi ikan menjadi 23 item makanan olahan. “Kalau ditambah 9 jenis kopi pembangkit gairah, saya memproduksi 32 item makanan dan minuman olahan,” ujar Saiful.

            Bagi Saiful apa pun bahannya yang berasal dari satwa laut dan air tawar bisa “disulap” menjadi camilan (snack) yang terasa “kriuk”. “Semua ikan, termasuk tulang ikan dan kepiting lengkap dengan cangkangnya kalau diolah bisa krispi,” ujarnya.

            Ketika kalangan menengah-atas menggemari ikan bayi (babby fish), bapak dua anak itu pun menyajikan keripik ikan nila dan lele. “Saya mendapatkan pasokan babby fish dari Balai Benih Ikan (BBI) milik Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Probolinggo di Klenang Lor, Kecamatan Gending,” ujarnya.

            Ikan-ikan yang dipanen dini (belum sampai dewasa) itu setelah diolah menjadi keripik, bisa dimakan sampai tulang-belulang dan kepalanya. Selain banyak mengandung protein, ikan yang lengkap dengan tulang-belulangnya itu  itu diyakini merupakan sumber kalsium yang baik untuk dikonsumsi anak yang dalam masa pertumbuhan.

            Selain ikan bayi, Saiful pun biasa mengolah ikan “lansia”. Ikan-ikan berukuran besar yang biasanya tidak disukai konsumen itu bisa menjadi makanan olahan.

“Ikan lele tua yang ukurannya over size (besar, Red.) tidak ada yang mau makan. Paling-paling dijadikan maskot untuk diperebutkan di lomba memancing. Padahal kalau diolah dagingnya melimpah,” ujarnya.

            Bahkan kepiting yang cangkangnya keras juga disulap menjadi keripik yang renyah. “Saya biasa mengolah kepiting olok atau yang sedang ganti cangkang dan siput laut,” ujarnya.

            Sejumlah nelayan di Probolinggo menjual kepiting yang sedang ngglembosi (bercangkang lunak) itu dengan harga murah. Padahal kepiting bercangkang lunak itu merupakan makanan mewah di restoran. *

          

Share
 
Terdapat komentar untuk berita ini.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan kometar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Posting Komentar Anda :
Nama
Email
Komentar Anda  
Security Code
 
>>> Kembali
KOLOM
Membunuh Janin Demokrasi Ala Pak De
Tak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba menyeruak pemikiran politik yang...
Lainnya
Heritage

Kampung Arab
Kampung Arab Surabaya terletak di sisi utara Kembang Jepun. Kawasan ini umumnya perumahan dengan sisi barat dibatasi oleh Kalimas dan pada...
Lainnya
Info Kurs
KURS JUAL BELI
USD 9,814.00 9,716.00
EUR 12,643.38 12,516.15
GBP 14,956.54 14,804.27
SGD 7,821.79 7,737.52
AUD 9,610.85 9,511.96
JPY 95.69 94.69
21 May 2013 13:54
Sumber : www.bi.go.id
Catatan Kecil
Sering Tampil di TV, Eko ‘Disemprit’
Masih kurang ya gaji dari dewan? Kemaruk amat!
Capres Non-Parpol Lebih Laku
Minimal kalau korupsi tak berjamaah…
Rusia Tuding AS Sabotase Sukhoi
Duh Mister Putin sukanya kok cari ‘kambing hitam’